Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Thursday, July 9, 2009

Serahkan hidupmu padaNya

sumber : unknown

Di depan gerbang sebuah jembatan di salah satu kota Eropa, duduklah seorang peminta-minta yang buta. Untuk mencari nafkahnya, ia setiap hari duduk di situ sambil memainkan biolanya yang sudah usang. Di depannya terletak sebuah kaleng kosong dan dia mengharapkan belas kasihan dari orang-orang yang lalu lalang di depannya, dan melalui permainan biolanya, orang-orang akan memberinya sedikit uang. Demikianlah pengemis miskin ini melakukan kebiasaannya setiap hari.

Pada suatu hari, seorang yang berpakaian sedikit rapi dan berjubah panjang, datang menghampiri pengemis tadi dan meminta agar pengemis itu meminjamkan biola usangnya. Tentu saja dengan sigap pengemis itu menolak dan berkata, "Tidak!! Ini adalah hartaku yang paling mahal!!". Pendatang ini tidak putus asa, dan terus membujuk si pengemis agar mau meminjamkannya biola tersebut hanya untuk sebuah lagu. Akhirnya muncul rasa kepercayaan pada pengemis buta itu, dan dengan perlahan ia memberikan biola tuanya kepada pendatang tersebut.

Pendatang tersebut mengambil biola tua itu dan mulai memainkan sebuah lagu dengan begitu merdu. Suara biola yang begitu halus di tangan si pendatang membuat orang yang lalu lalang berhenti dan mereka mulai berkeliling mengelilingi si pendatang dan pengemis tersebut. Begitu merdunya lagu dan bagusnya permainan biola si pendatang tersebut membuat semua orang terdiam, dan si pengemis buta ternganga tanpa dapat berkata-kata. Kaleng yang tadinya kosong kini telah penuh dengan uang, dan lagu demi lagu telah dimainkan oleh si pendatang tersebut. Akhirnya ia pun harus mengakhiri permainannya, dan sambil mengucapkan terima kasih, ia mengembalikan biola tersebut kepada si pengemis. Si pengemis sambil berurai air mata, dan dengan gemetar bertanya: "Siapakah anda orang budiman?". Si pendatang tersenyum dan dengan perlahan menyebutkan namanya, "Paganini".

Semua orang terdiam. Seorang maestro biola yang bernama Paganini, telah memberikan banyak berkat kepada sang pengemis yang telah memberikan harta kesayangannya untuk dipergunakan oleh sang maestro, betapa menakjubkan!

Ada sebuah jaminan berkat bagi siapa saja yang mau menyerahkan tenaganya, hartanya, talentanya, kepada sang 'Maestro' kita yaitu Kristus.

Wednesday, May 27, 2009

Bersahabat karena status

(oleh Eliana)
Yakobus 4:10 Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.

Di sebuah perusahaan advertising, ada seorang gadis bernama Mira. Dia bertugas mendistribusikan surat untuk para staf di perusahaan itu. Pekerjaannya terlihat sangat sederhana. Apa lagi jika dibandingkan dengan copywriter, art design, marketing yang dianggap penting karena memberi kontribusi lebih nyata pada perusahaan. Mungkin karena itu, keberadaannya sering diabaikan. Tak banyak yang tahu namanya. Mereka hanya mengenalnya sebagai si gadis pembawa dokumen.

Hingga suatu kali, Mira tidak masuk selama beberapa hari. Tak urung, kantor jadi kacau karena surat tidak dapat terdistribusikan dengan baik. Dalam keadaan seperti itu, barulah orang merasakan betapa pentingnya kehadiran seorang Mira.

Ya, tanpa disadari, kita seringkali kurang memperhatikan rekan kerja yang bagiannya lebih rendah. Mungkin, karena kita menganggap bergaul dengan mereka tidak banyak membawa keuntungan.

Manusia sering kali menghargai seseorang karena statusnya. Padahal status itu hanyalah buatan manusia dan tidak kekal. Sedangkan di hadapan Tuhan status kita adalah sama, yaitu anak-anak-Nya yang berhak menerima keselamtan karena cinta dan belas kasihan Allah. Jadi, rasanya tidak layak jika kita tidak menghargai orang lain hanya karena statusnya lebih rendah dari kita.

Tuhan senang dengan orang yang rendah hati. Marilah kita mengasihi dan memperhatikan sesama kita, tanpa memandang statusnya. Memandang orang lain hanya sebatas kulit kuar adalah kebodohan yang sangat memalukan.

Tuesday, May 19, 2009

TeRLenA

Ini dikutip dari milis KKMKKAJ oleh Elena

Yakobus 1:2-3
Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.

Orang Jawa itu konon, kalau "dipangku" akan mati. Konon pula, strategi itulah yang dilakukan penjajah untuk menaklukkan orang Jawa. Dipangku, diberi kedudukan, diberi kenyamanan, sehingga mereka bertekuk lutut. Konon, ilmu itu ditimba dari tulisan hanacaraka. Abjad Jawa ini, yang masing-masing karakter dibaca sebagai salah satu suku kata, bila diberi tanda baca "pangku" akan menjadi huruf mati. Kedudukan, kenyamanan hidup, memang bisa melenakan. Kecenderungan ini rasanya bukan hanya menghinggapi orang Jawa, tapi kita semua tidak terkecuali. Mungkin Anda masih ingat kata-kata iklan sebuah produk furnitur, "Kalau sudah duduk, lupa berdiri!"

Tuhan Yesus tentu mengenali kecenderungan ini. Ia tidak menjanjikan "kenyamanan" seperti yang kita bayangkan. Rumah kehidupan kita di dunia ini akan teap dilanda hujan, banjir, dan badai. Lebih jauh lagi, kita didorong untuk bersukacita sewaktu pencobaan datang. Bila kita menanggapinya dengan benar, iman kita akan semakin dikuatkan melalui semua tantangan tersebut. Banyak Mazmur yang dilahirkan di tengah masa sulit. Sebagian besar surat Paulus ditulis di dalam penjara. Tokoh-tokoh besar yang tercatat oleh sejarah juga dikenang karena kegigihan mereka mengatasi rintangan hidup.

Jadi, bila kehidupan Anda sudah serba nyaman, tampaknya Anda mesti waspada. Orang yang nyaman adalah orang yang paling susah diajak untuk maju.