Tuesday, October 6, 2009

cerita dari tanah baru

Sedikit sharing...hari ke dua kami di Perth....ceritanya mau lihat2 mobil lah......eh ngak tau gimana nita ( putri kami no 3) senggol velk roda, taunya kena di jari kaki, spontan sakitnya alang kepalang.... .bergegeslah kita cari RS terdekat, ternyata ngak semua RS ada fasilitas emergencynya, cari lagi sementara sakitnya kaki alang kepalang .....akhirnya sampe di RS Frementle yg kira2 dari Perth 20 km.....

Rupanya cara mereka memerima pasien ada aturannya, yg bagi kami itu berbelit banget, pertama kita harus antri duduk di kursi merah untuk di tanya oleh perawat, setelah itu pindah ke kursi biru untuk di tanya soal administrasi, tunggu untuk di panggil masuk....... .setelah masuk, ketemu suster di tanya lagi....tunggu. ....dokter tanya2 lagi...... tunggu lagi......untuk rotgen.....aku udah kesakitan dia baru tanya dari skala 1 sampe 10 sakitnya berapa...ta jawab 8 ...suster bilang it ok

jadi kalo 8 ok, mestinya ta jawab 10 kali ya, biar dapet pain kiler, setelah di rotgen.....baru ketahuan kalo tiga jari kaki patah, baru deh susternya kasih obat penahan sakit.

Setelah itu, dokter bilang kalo telapak kakinya akan di gips, dan harus pake tongkat, begitu mau di gips ssakitnya bukan main, akhirnya mereka balut saja, buat apponitment gips pada hari berikutnya.. ....

Saya tanya ama Franky di cash berapa ?...dia bilang billnya nati di kirim ke alamat, trus bayar di bank...(lucu jg)

Begitulah sekedar cerita dari tanah baru........ ..kita kembalikan pada yang kuasa kalau memang harus terjadi terjadilah.. ..dalam segenap kelemahan kami serahkan pada MU ya ALLAH ku.

Karna kejadian tersebut frank yg biasanya cuti sunday, spontan tanya sana sini, alamat gereja, akhirnya kita dapet gereja ST Thomas - Melville di mana banyak komunitas indonesia disana. melegakan juga akhirnya

Demikian sekilas info dari negeri kangoroo

words: mBak Yossy (29 Sep 2009), pic: Andre

Saturday, September 26, 2009

Houston here we are

Kami sudah merayakan misa untuk pertama kalinya di Houston hari Minggu kemarin, di gereja yg relatif dekat dg hotel, namanya Co-Cathedral Sacred Heart, besar dan megah gerejanya. Kami senang sekali melihat umat yang banyak, semangat, dan kegiatan kategorial yang kaya, persis suasana kehidupan umat di Indonesia. Suasana yang tidak sering kami jumpai dan alami selama satu tahun hidup kami di Milan, termasuk melihat kehidupan umat menggereja di negara-negara Eropa lainnya termasuk Italia yang umumnya terasa sepi dan adem ayem...:)). Hanya saja aku kangen kalau di Italia jam 12 siang lonceng gereja dekat rumah selalu berbunyi tanda untuk berdoa Malaikat Tuhan. Di Houston mah nggak ada bunyi lonceng gereja, yang banyak bunyi sirene..hehe

Kalau soal makanan, senangnya di sini jauuh lebih banyak pilihan daripada di Italia (memang Italia dibandingkan Belanda, Belgia, Jerman, Inggris, Perancis, Cezch, dan Spanyol, variasi makanan internasionalnya paling menyedihkan deh, maklum sdh ada pasta dan pizza yg sangat kuat merakyat).

Di sini selain banyak restoran Vietnam, juga Thai dan Jepang serta tentu saja, Meksiko. Enak juga masakan Meksiko banyak saus (dip) aneka rasa yang segerr bahkan ada yg seperti sambal dabu-dabunya Menado. Besok Sabtu kabarnya di Konjen RI Houston ada jualan aneka makanan Indonesia spt buntil, bakwan Malang, mie ayam Jakarta, pempek kapal selam dan macam2 deh, katanya rutin setiap bulan ada, pasti deh tidak akan kami lewatkan. Oya toko bahan makanan Asia termasuk Indonesia juga besaar dan lengkap. Tapi yg jelas belum ketemu durian nih pak Wahyu, tapi nanti pasti ketemu, wong di Milan aja juga kadang dijual di toko Asia kok, impor dari Thailand.

(words by Uti 26-9-09)

selamat jalan keluarga Frank&Yossy

kami ikut mengucapkan selamat dan selamat bertugas ke tempat yang baru. Semoga kasih setia Tuhan Yesus senantiasa menyertai petualangan hidup yang baru, dengan kasih dan harapan yang juga selalu baru dalam Tuhan. Juga semoga semua proses perpindahan berjalan lancar dan menyenangkan (picture by Andre, words by Uti)

Wednesday, August 5, 2009

keluarga pak Wahyu Dradjad Santoso



Keluarga pak Wahyu, dari kiri ke kanan, Nanda, pak Wahyu, Ibu Mari, Dara. Bagusnya foto keluarganya Pak, ini di Yonas foto di Bandung ya ? apakah setelah momen wisudanya Nanda ? selamat untuk Nanda yang telah diwisuda dari jurusan perminyakan ITB. Sukses selalu tuk keluarga pak Wahyu, berkat Tuhan melimpah

Thursday, July 30, 2009

Bismo dapat award



Selamat buat mas Bismo....
(Putera ke-dua dari Ibu Rita)

Ini adalah salah satu manfaat dari Gizi yang sehat....enggak sia-sia Bu Rita meng-komandani kelik untuk urusan "Test Food"...he..he..he..

Prestasi gemilang dari putera Kelik-KL.


Andre

Thursday, July 9, 2009

Berhenti Sejenak

Biarkan aku termangu sendiri
Di saat mimpiku terusik, entah roh apa yang membuatku terjaga..
Hidup serasa bersatu dengan alam..
Apakah manusia tak pernah berhenti mengikuti kemana arah matahari bergerak?
Biarkan aku sejenak berhenti….

Merasakan bahagia dalam kesedihan
Menikmati segenap kesal…
Merasai setiap detik kekosongan
Mengecap sejenak rasa yang ada…..
Memaknai kegagalan….
Menatap keinginan dan harapan…
Melepaskan semuanya dalam keheningan…

Saatku berhenti dan berpaling…aku melihat wajah-wajah orang yang kukasihi dalam lelap
Senyumku mengembang dalam linangan air mata
Dunia pun melaju mengikuti alurnya….

Trimakasih Tuhan karena Kau ciptakan manusia yang boleh merasakan segala hal dalam hidup
Trimakasih Yesus karena membuat hidup ini terasa lebih bermakna….

KL, 10 Juli 2009

Serahkan hidupmu padaNya

sumber : unknown

Di depan gerbang sebuah jembatan di salah satu kota Eropa, duduklah seorang peminta-minta yang buta. Untuk mencari nafkahnya, ia setiap hari duduk di situ sambil memainkan biolanya yang sudah usang. Di depannya terletak sebuah kaleng kosong dan dia mengharapkan belas kasihan dari orang-orang yang lalu lalang di depannya, dan melalui permainan biolanya, orang-orang akan memberinya sedikit uang. Demikianlah pengemis miskin ini melakukan kebiasaannya setiap hari.

Pada suatu hari, seorang yang berpakaian sedikit rapi dan berjubah panjang, datang menghampiri pengemis tadi dan meminta agar pengemis itu meminjamkan biola usangnya. Tentu saja dengan sigap pengemis itu menolak dan berkata, "Tidak!! Ini adalah hartaku yang paling mahal!!". Pendatang ini tidak putus asa, dan terus membujuk si pengemis agar mau meminjamkannya biola tersebut hanya untuk sebuah lagu. Akhirnya muncul rasa kepercayaan pada pengemis buta itu, dan dengan perlahan ia memberikan biola tuanya kepada pendatang tersebut.

Pendatang tersebut mengambil biola tua itu dan mulai memainkan sebuah lagu dengan begitu merdu. Suara biola yang begitu halus di tangan si pendatang membuat orang yang lalu lalang berhenti dan mereka mulai berkeliling mengelilingi si pendatang dan pengemis tersebut. Begitu merdunya lagu dan bagusnya permainan biola si pendatang tersebut membuat semua orang terdiam, dan si pengemis buta ternganga tanpa dapat berkata-kata. Kaleng yang tadinya kosong kini telah penuh dengan uang, dan lagu demi lagu telah dimainkan oleh si pendatang tersebut. Akhirnya ia pun harus mengakhiri permainannya, dan sambil mengucapkan terima kasih, ia mengembalikan biola tersebut kepada si pengemis. Si pengemis sambil berurai air mata, dan dengan gemetar bertanya: "Siapakah anda orang budiman?". Si pendatang tersenyum dan dengan perlahan menyebutkan namanya, "Paganini".

Semua orang terdiam. Seorang maestro biola yang bernama Paganini, telah memberikan banyak berkat kepada sang pengemis yang telah memberikan harta kesayangannya untuk dipergunakan oleh sang maestro, betapa menakjubkan!

Ada sebuah jaminan berkat bagi siapa saja yang mau menyerahkan tenaganya, hartanya, talentanya, kepada sang 'Maestro' kita yaitu Kristus.