
Saturday, September 26, 2009
Houston here we are

selamat jalan keluarga Frank&Yossy
Wednesday, August 5, 2009
keluarga pak Wahyu Dradjad Santoso

Keluarga pak Wahyu, dari kiri ke kanan, Nanda, pak Wahyu, Ibu Mari, Dara. Bagusnya foto keluarganya Pak, ini di Yonas foto di Bandung ya ? apakah setelah momen wisudanya Nanda ? selamat untuk Nanda yang telah diwisuda dari jurusan perminyakan ITB. Sukses selalu tuk keluarga pak Wahyu, berkat Tuhan melimpah
Thursday, July 30, 2009
Bismo dapat award
Thursday, July 9, 2009
Berhenti Sejenak
Di saat mimpiku terusik, entah roh apa yang membuatku terjaga..
Hidup serasa bersatu dengan alam..
Apakah manusia tak pernah berhenti mengikuti kemana arah matahari bergerak?
Biarkan aku sejenak berhenti….
Merasakan bahagia dalam kesedihan
Menikmati segenap kesal…
Merasai setiap detik kekosongan
Mengecap sejenak rasa yang ada…..
Memaknai kegagalan….
Menatap keinginan dan harapan…
Melepaskan semuanya dalam keheningan…
Saatku berhenti dan berpaling…aku melihat wajah-wajah orang yang kukasihi dalam lelap
Senyumku mengembang dalam linangan air mata
Dunia pun melaju mengikuti alurnya….
Trimakasih Tuhan karena Kau ciptakan manusia yang boleh merasakan segala hal dalam hidup
Trimakasih Yesus karena membuat hidup ini terasa lebih bermakna….
KL, 10 Juli 2009
Serahkan hidupmu padaNya
Di depan gerbang sebuah jembatan di salah satu kota Eropa, duduklah seorang peminta-minta yang buta. Untuk mencari nafkahnya, ia setiap hari duduk di situ sambil memainkan biolanya yang sudah usang. Di depannya terletak sebuah kaleng kosong dan dia mengharapkan belas kasihan dari orang-orang yang lalu lalang di depannya, dan melalui permainan biolanya, orang-orang akan memberinya sedikit uang. Demikianlah pengemis miskin ini melakukan kebiasaannya setiap hari.
Pada suatu hari, seorang yang berpakaian sedikit rapi dan berjubah panjang, datang menghampiri pengemis tadi dan meminta agar pengemis itu meminjamkan biola usangnya. Tentu saja dengan sigap pengemis itu menolak dan berkata, "Tidak!! Ini adalah hartaku yang paling mahal!!". Pendatang ini tidak putus asa, dan terus membujuk si pengemis agar mau meminjamkannya biola tersebut hanya untuk sebuah lagu. Akhirnya muncul rasa kepercayaan pada pengemis buta itu, dan dengan perlahan ia memberikan biola tuanya kepada pendatang tersebut.
Pendatang tersebut mengambil biola tua itu dan mulai memainkan sebuah lagu dengan begitu merdu. Suara biola yang begitu halus di tangan si pendatang membuat orang yang lalu lalang berhenti dan mereka mulai berkeliling mengelilingi si pendatang dan pengemis tersebut. Begitu merdunya lagu dan bagusnya permainan biola si pendatang tersebut membuat semua orang terdiam, dan si pengemis buta ternganga tanpa dapat berkata-kata. Kaleng yang tadinya kosong kini telah penuh dengan uang, dan lagu demi lagu telah dimainkan oleh si pendatang tersebut. Akhirnya ia pun harus mengakhiri permainannya, dan sambil mengucapkan terima kasih, ia mengembalikan biola tersebut kepada si pengemis. Si pengemis sambil berurai air mata, dan dengan gemetar bertanya: "Siapakah anda orang budiman?". Si pendatang tersenyum dan dengan perlahan menyebutkan namanya, "Paganini".
Semua orang terdiam. Seorang maestro biola yang bernama Paganini, telah memberikan banyak berkat kepada sang pengemis yang telah memberikan harta kesayangannya untuk dipergunakan oleh sang maestro, betapa menakjubkan!


